RDMP Balikpapan Jadi Kunci Setop Impor Bensin Solar

Rabu, 14 Januari 2026 | 09:18:33 WIB
RDMP Balikpapan Jadi Kunci Setop Impor Bensin Solar

JAKARTA - Upaya Indonesia melepaskan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak kembali menemukan momentumnya. 

Beroperasinya kilang terintegrasi Refinery Development Master Plan atau RDMP Balikpapan diproyeksikan menjadi titik balik dalam pemenuhan kebutuhan bensin dan solar nasional. 

Dengan peningkatan kapasitas dan teknologi pengolahan yang lebih modern, pemerintah optimistis pasokan BBM dalam negeri dapat dipenuhi dari produksi sendiri.

Kilang Balikpapan kini memiliki peran strategis dalam sistem energi nasional. Keberadaan fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) memungkinkan peningkatan kapasitas pengolahan minyak mentah secara signifikan. 

Dari sebelumnya hanya mampu mengolah 260 ribu barel per hari, kapasitas kilang kini meningkat menjadi 360 ribu barel minyak per hari.

Peningkatan kapasitas tersebut menjadi fondasi utama untuk memperkuat kedaulatan energi. Pemerintah melihat pengoperasian RDMP 

Balikpapan bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi langkah konkret untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM yang selama ini membebani neraca perdagangan dan devisa negara.

Strategi Menghentikan Impor Solar Secara Bertahap

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa RDMP Balikpapan akan menjadi kunci penghentian impor solar. 

Dengan kapasitas kilang yang meningkat dan dukungan program energi terbarukan, pemerintah menargetkan penghentian impor solar secara bertahap mulai pertengahan 2026.

"Insyaa Allah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan energi dengan tidak lagi mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri melalui impor," ujar Bahlil.

Ia menjelaskan kebutuhan solar nasional saat ini mencapai 39,8 juta kiloliter per tahun. Dari jumlah tersebut, program biodiesel B40 menyumbang pasokan Fatty Acid Methyl Este (FAME) sebesar 15,9 juta kiloliter per tahun. Dengan demikian, kebutuhan solar murni atau B0 tersisa sekitar 23,9 juta kiloliter per tahun.

Sementara itu, produksi solar dalam negeri saat ini telah mencapai 26,5 juta kiloliter per tahun. Dengan kondisi tersebut, pemerintah menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menghentikan impor solar, baik untuk produk CN 48 maupun CN 51, mulai pertengahan 2026, selama keseimbangan pasokan dan permintaan dapat dijaga.

Optimalisasi Produksi Bensin Beroktan Tinggi

Selain solar, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada upaya mengurangi impor bensin. Kebutuhan bensin nasional saat ini tercatat sekitar 38,5 juta kiloliter per tahun. 

Angka tersebut terdiri atas bensin RON 90 sebesar 28,9 juta kiloliter per tahun, RON 92 sebesar 8,7 juta kiloliter per tahun, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kiloliter per tahun.

Melalui optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan, produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 dapat ditingkatkan hingga 5,8 juta kiloliter per tahun. Tambahan kapasitas ini dinilai signifikan untuk menekan ketergantungan impor bensin beroktan tinggi.

Dengan peningkatan produksi tersebut, impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 dapat ditekan hingga sekitar 3,6 juta kiloliter per tahun. Pemerintah juga melihat peluang penghematan impor yang lebih besar melalui penerapan kebijakan energi campuran.

"Ke depan, melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90," terang Bahlil.

Langkah ini sejalan dengan strategi jangka panjang pemerintah dalam membangun sistem energi yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan.

Tiga Langkah Pemerintah Menuju Kedaulatan Energi

Untuk merealisasikan target besar tersebut, Bahlil menegaskan pemerintah menyiapkan tiga langkah utama. Pertama, meningkatkan kapasitas kilang melalui proyek pengembangan seperti RDMP Balikpapan. Langkah ini menjadi tulang punggung peningkatan produksi BBM nasional.

Kedua, pemerintah mendorong diversifikasi energi dengan mengoptimalkan program biodiesel, termasuk implementasi B40. Program ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada solar berbasis fosil, tetapi juga memperkuat pemanfaatan sumber daya dalam negeri.

Ketiga, pemerintah menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan energi nasional. Langkah ini dilakukan agar ketersediaan BBM tetap terjaga, sekaligus memastikan transisi menuju kemandirian energi berjalan stabil tanpa mengganggu kebutuhan masyarakat.

RDMP Balikpapan sendiri didukung oleh fasilitas utama berupa CDU dan RFCC. Selain itu, proyek ini terintegrasi dengan dua tangki penyimpanan raksasa di Lawe-lawe dengan total kapasitas mencapai 2 juta barel, serta Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter yang melayani distribusi BBM ke wilayah Indonesia bagian timur.

Dengan kualitas produk yang terus ditingkatkan, BBM hasil RDMP Balikpapan telah mendekati standar Euro 5 dan mendukung target pengurangan emisi.

"Yang (RDMP) sekarang kualitasnya sangat bagus sekali, sudah menuju setara dengan Euro 5, dan ini menuju kepada net zero emission," tegas Bahlil.

Terkini