Korlantas

Teknologi Digital Korlantas Polri Kelola Arus Mudik Lebaran 2026 Nasional

Teknologi Digital Korlantas Polri Kelola Arus Mudik Lebaran 2026 Nasional
Teknologi Digital Korlantas Polri Kelola Arus Mudik Lebaran 2026 Nasional

JAKARTA - Pergerakan jutaan kendaraan saat musim mudik Lebaran menjadi tantangan besar bagi pengelolaan lalu lintas nasional.

 Setiap tahun, lonjakan kendaraan yang keluar dari kota-kota besar menuju berbagai daerah membutuhkan sistem pengaturan yang semakin canggih agar kemacetan dapat diantisipasi sejak dini. 

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mulai mengandalkan teknologi digital sebagai alat utama dalam memantau sekaligus mengatur pergerakan kendaraan selama arus mudik dan arus balik Lebaran 2026.

Pemanfaatan teknologi digital ini dinilai mampu memberikan gambaran kondisi lalu lintas secara real-time. Dengan data yang lebih akurat dan cepat, petugas dapat menentukan langkah rekayasa lalu lintas secara tepat tanpa harus menunggu kemacetan semakin parah. Teknologi juga memungkinkan pengambilan keputusan yang berbasis data, bukan sekadar perkiraan di lapangan.

Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Agus Suryonugroho menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya peningkatan sistem pengelolaan lalu lintas dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan dukungan teknologi digital, Korlantas dapat memantau pergerakan kendaraan secara lebih detail di berbagai titik strategis.

"Dan tahun 2026, untuk meningkatkan suksesi dari 2025 kemarin, kami sudah menggunakan teknologi digital untuk memantau bagaimana flow daripada traffic counting itu bisa dieksekusi," kata Irjen Agus.

Pemanfaatan Teknologi Digital Untuk Memantau Pergerakan Kendaraan

Pemantauan lalu lintas secara digital menjadi salah satu kunci utama dalam pengelolaan arus mudik Lebaran tahun ini. Korlantas Polri bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memanfaatkan sistem pemantauan yang dapat menghitung jumlah kendaraan secara langsung di sejumlah titik strategis.

Teknologi traffic counting memungkinkan petugas mengetahui secara pasti berapa banyak kendaraan yang melintas di jalur tertentu. Dengan informasi tersebut, pengambilan keputusan terkait pengaturan lalu lintas dapat dilakukan secara lebih terukur.

Irjen Agus menjelaskan bahwa kebijakan rekayasa lalu lintas kini tidak lagi hanya mengandalkan perkiraan atau prediksi semata. Semua keputusan akan didasarkan pada parameter jumlah kendaraan yang terpantau melalui sistem pemantauan digital.

"Contoh, ada 3,5 juta kendaraan yang melintas gate tol meninggalkan Pulau Jawa dan Sumatera, itu bukan lagi kita pakai kira-kira atau prediksi, tetapi parameter jumlah kendaraan itu akan memutuskan kami akan melakukan rekayasa lalu lintas," ujarnya.

Pendekatan berbasis data ini diharapkan dapat membuat pengelolaan arus mudik menjadi lebih responsif terhadap perubahan kondisi di lapangan.

Skema Rekayasa Lalu Lintas Berdasarkan Data Traffic Counting

Selain memantau jumlah kendaraan, teknologi digital juga membantu menentukan kapan rekayasa lalu lintas perlu diterapkan. Data yang diperoleh dari radar pemantauan kendaraan menjadi indikator penting dalam menentukan langkah pengaturan lalu lintas.

Irjen Agus memberikan contoh bagaimana sistem ini bekerja. Apabila dalam satu jam jumlah kendaraan yang melintas di titik kilometer 47 mencapai sekitar 5.500 unit, maka petugas akan segera memberlakukan rekayasa lalu lintas berupa contraflow pada satu lajur.

"Contoh, 1 jam berturut-turut di kilometer 47 itu ada radar dari Jasa Marga dan teknologi early warning dari Korlantas, itu sudah 5.500, kami harus melakukan contraflow lajur satu," ujarnya.

Langkah tersebut bertujuan untuk memperlancar arus kendaraan agar tidak terjadi penumpukan yang terlalu panjang di jalur tol.

Peningkatan Rekayasa Lalu Lintas Jika Kepadatan Meningkat

Apabila jumlah kendaraan yang melintas terus meningkat, Korlantas Polri juga telah menyiapkan langkah lanjutan untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Sistem digital yang memantau traffic counting akan memberikan sinyal apabila kepadatan kendaraan melewati ambang batas tertentu.

Jika dalam dua jam berturut-turut jumlah kendaraan yang melintas mencapai sekitar 6.400 unit, maka rekayasa lalu lintas akan ditingkatkan dengan membuka contraflow hingga dua lajur.

"Masih ada bangkitan arus? Udah pasti bangkitan arus. Eh 2 jam berturut-turut di kilometer 47 dari radar ada 6.400, kami harus melakukan contraflow lajur dua. Kapan pelaksanaannya? Tergantung traffic counting," ujar Irjen Agus.

Bila langkah tersebut masih belum mampu mengurai kepadatan kendaraan, maka Korlantas akan menerapkan skema rekayasa lalu lintas yang lebih besar, yakni sistem satu arah atau one way.

"Kalau sudah contraflow lajur satu dan dua dilakukan ternyata masih padat, kita akan buka sumbunya di kilometer 70 akan kita buka, kita akan one way sepenggal karena pertama di wilayah contraflow one way nasional. Jadi kita buka," lanjutnya.

Langkah bertahap ini memungkinkan pengelolaan arus kendaraan dilakukan secara lebih fleksibel sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan.

Evaluasi Pengaturan Lalu Lintas Untuk Mudik Lebaran Tahun Ini

Korlantas Polri juga melakukan evaluasi terhadap penerapan rekayasa lalu lintas pada musim mudik tahun sebelumnya. Evaluasi tersebut menjadi dasar dalam menyusun strategi pengaturan arus kendaraan pada Lebaran 2026.

Pada periode mudik tahun lalu, skema one way diberlakukan mulai dari kilometer 70 hingga kilometer 188. Berdasarkan hasil evaluasi, Korlantas memutuskan untuk memperpanjang jangkauan kebijakan tersebut pada tahun ini.

Perpanjangan jalur one way diharapkan mampu mempercepat distribusi kendaraan di jalur tol sehingga kepadatan lalu lintas dapat dikurangi secara signifikan.

"Tahun kemarin, dari kilometer 70 sampai 188. Kami evaluasi, sekarang langsung dari 70 sampai ke 236. Sehingga nanti akan mempercepat pemelancar kaitannya dengan bangkitan arus yang ada di jalan tol menuju ke arah Jawa termasuk yang ke arah Sumatera. Demikian yang bisa kita siapkan," ucapnya.

Dengan dukungan teknologi digital, pengelolaan arus mudik dan arus balik Lebaran diharapkan menjadi lebih efektif. Sistem pemantauan kendaraan yang akurat memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan secara cepat sehingga kemacetan dapat diantisipasi sejak awal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index